be different, confident, and.... creative.

He is my father,
who taught me how to be different, confident, and.... creative.

So, the story begins when I was in Kindergarten.
Cukup banyak hal yang gue inget dari taman kanak-kanak; pertama kali belajar nulis nama sendiri, makan bekel bareng temen-temen di jam istirahat, rebutan mainan sampe marahan, kunjungan ke pabrik es krim dan kantor polisi, latihan manasik haji, tampil nari di panggung kreasi, dan perpisahan di salah satu hotel tua di Cikarang.

dan kejadian ini terjadi di peristiwa paling lumrah yang ada di taman kanak-kanak.
Hari itu, semua murid diwajibkan mengenakan pakaian dengan tema pekerjaan impian; kalau mau jadi dokter, ya pake baju dokter. Kalau mau jadi tentara, silakan pake baju tentara. Kalau mau jadi guru, bisa tiru ibu guru! Exciting enough, right?

Gue masih inget seberapa-nggak-sabarnya gue menyambut hari itu. Dulu, gue pengeennn banget jadi polisi. Udah kebayang, dong, gimana kerennya gue dateng dengan seragam coklat khas pak polisi; Siapa yang nakal? Sini, Ide tangkap!

Tapi itu semua gak terwujud sesuai harapan.
My parents didn't buy me that police uniform.
How sad it was.
Yes, it was.

Gue merengek tiap pergi ke pusat perbelanjaan.
Tapi permintaan tetep nggak dikabulkan.

Sampai hari itu tiba.

Gue nangis sebelum berangkat sekolah.
"GAK MAU PAKE INI. MAUNYA PAKE BAJU POLISI!!!"
But my parents seemed not hear anything.

Di hari itu, gue hanya mengenakan satu stel baju muslim merek Dannis -- salah satu dari sekian Dannis yang gue punya. Terlihat biasa dan sama sekali nggak menggambarkan pekerjaan apa-apa.

Tapi kemudian, bokap menambahkan satu sentuhan pada Dannis gue. Sebuah nametag bertuliskan nama lengkap gue, dengan tulisan "peragawati" di bawahnya.

Gue nggak ngerti, dan "peragawati" terdengar aneh bagi gue.
Pekerjaan macam apa itu?! GAK KENAL!
Jadi gue tetep merengek di pagi itu sampe nggak mau ikut mobil jemputan.
Tapi bokap tetep ngeyakinin gue, dan gue pun tetep berangkat ke sekolah.

Sampai sekolah, semua anak terlihat keren dengan baju dokter, seragam tentara, dan hey! ada yang pake baju polisi juga!

Gue cuma bisa diem.
dan gue adalah satu-satunya peragawati di hari itu.

Salah satu teman menghampiri.
"Pe-ra-ga-wa-ti" bacanya masih terbata-bata. Ya namanya juga anak TK.
"Ide, itu apa?"
"Kata papa aku peragawati itu model. Aku juga gak tau."
"Ayo kita tanya ibu guru!"

"Bu guru, Ide jadi peragawati. Peragawati itu apa, sih?"
"Peragawati itu model yang biasanya ada di majalah atau yang ada di TV."
"Wah, keren! Ayo kita main!"

Jadi peragawati ternyata gak seburuk yang gue kira.
Ibu guru juga kasih apresiasi karena gue udah ngasih wawasan baru buat temen-temen lainnya.

Hari itu ternyata gak berakhir buruk,
dan gue bangga dengan apa yang gue pakai!

dan di hari ini, gue sadar;
gimana jadinya kalau gue tetep dibeliin baju polisi?
Mungkin yang akan terjadi hanyalah percakapan sebatas "Eh, aku juga mau jadi polisi! Ayo kita main!" atau "Eh, baju kita sama! Ayo kita main!"

atau, gimana jadinya kalau gue nggak jadi berangkat sekolah hari itu?

So, it was my father,
who already taught me how to be different, confident, and.... creative.

Thanks, Pap.
I love you however you are.

Comments

Popular posts from this blog

Aru

Current Thoughts: Archaeoastronomy

Beam